Rabu, 06 Juli 2011

HUBUNGAN AKHLAK DENGAN TASAWUF

BAB I
PENDAHULUAN

Tasawuf pada awal perbentukannya adalah aklahk atau keagamaan, sedangakan moral keagamaan ini banyak diatur dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sumber utamanya adalah sejarah dan ajaran islam sebab tasawuf ditimbah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dan amalan serta ucapan para sahabat. Amalan serta ucapan para sahabat itu tidak keluar dari ruang lingkup Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Para ahli ilmu tasawuf pada umum nya membaga tasawuf kepada tiga bagian. Pertama tasawuf filsafi, kedua tasawuf akhlaki, ketiga tasawuf amali. Ketiga macam tasawuf ini tujuannya sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allh dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghias diri dengan perbuatan yang terpuji.

BAB II
PEMBAHASAN

HUBUNGAN AKHLAK DENGAN TASAWUF

A. AKHLAK

Secara etimologi akhlak berasal dari bahasa Arab ( ) bentuk jamak dari mufradnya khuluq ( ), yang berarti budi pekerti, sinonimnya etika dan moral. Etika berasal dari bahasa latin, “etos” yang berarti kebiasaan. Moral juga berasal dari bahasa latin juga, “mores” juga “kebiasaannya”.
Sedangkan menurut Al-Ghazali dalam bukunya Ihya-u’lumuddin yaitu khuluq, perangai ialah suatu sifat yang tetap pada jiwa, yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak membutuhkan kepada pikiran.
Dalam usaha menyingkap tabir/hijab yang membatasi diri denngan tuhan, oleh kaum Shufi/Tasawuf telah membuat suatu system yang dinamakan: Takaolli, Tahalli, dan Tajalli system mana dipakai dalam Riadhah/latihan-latihan dan mujahadah/berjuang untuk mensuci membersihkan diri dari segla sifat-sifat yang tercela dalam rangk mencapai “maqam” yang lebih tinggi, dengan kata memperbaiki akhlak. Dalam buku Kimyaus-Saadah Al-Gazali berkaata,”bahwa tujuan perbaikan akhlak itu, ialah untuk membersihkan qalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah sehingga hati menjadi suci bersih, bagaikan cermin yang dapat menerima Nur cahaya Tuhan.
Dinding/hijab yang membatisi diri dengan Tuhan ialah hjawa nafsu kita sendiri. Dalam usaha menghilangkan hijab/dinding itu, kaum Shufi mengadakan latihan-latihan dari satu tingkat ketingkat yang lebih tinggi yang pada akhirnya dapat mempersatukan dirinya dengan Tuhan, firman

                         
Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

Maka untuk mencapai tujuan “Liqa” itu membutuhkan latiha-latihan dan perjuangn, perjuangan untuk mensuci bersihkan diri, perjungan mamperbaiki akhlak secara terus-menerus dan dalam menyembah Tuhan terus-menerus ssampai akhir hayat.
     
Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).

B. Tasawuf

Ilmu Tasawuf ialah ilmu yang mempelajari usaha membersihkan diri, berjuang memerangi hawa nafsu.
Tasawuf pada awal perbentukannya adalah aklahk atau keagamaan, sedangakan moral keagamaan ini banyak diatur dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sumber utamanya adalah sejarah dan ajaran islam sebab tasawuf ditimbah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dan amalan serta ucapan para sahabat. Amalan serta ucapan para sahabat itu tidak keluar dari ruang lingkup Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Abu Nashr As-Siraj Ath-Thusi, dalam kitabnya Al-Luma, melihat bahwa dari Al-Qur’an dan As-Sunnah itulah para sufi pertama-tama mendasarkan pendapat mereka tentang moral dan tingkah laku, kerinduan dan kecintaan kepada Ilahi, ma’rifat, suluk (jalan), dan juga latihan-latihan rohaniyah mereka, yang mereka susun demi terealisasinya tujuan kehidupan mistis.
Secara umum, ajaran islam mengatur kehidupan yang bersifat lahiriah dan batiniah. Pemahaman terhadap unsur kehidupan yang bersifat batiniah pada gilirannya melahirkan tasawuf. Unsur kehidupan tasawuf ini mendapat perhatian yang cukup besar dari ajaran islam, Al-Qur’an dan A-Sunnah serta peraktek kehidupan Nabi dan sahabatnya. Al-Qur’an antara lain berbicara agar senantiasa bertaubat membersihkan diri dan memohon ampunan kepada-Nya, sehingga memperoleh cahaya dari-Nya.

C. HUBUNGAN NYA

Para ahli ilmu tasawuf pada umum nya membaga tasawuf kepada tiga bagian. Pertama tasawuf filsafi, kedua tasawuf akhlaki, ketiga tasawuf amali. Ketiga macam tasawuf ini tujuannya sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allh dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghias diri dengan perbuatan yang terpuji. Dengan demikian dalam proses pencapaian tujuan bertasawuf seserorang harus terlebih dahulu berakhlak mulia. Ketiga macam tasawuf berbeda dalam hal pandekatan yang digunakan. Pada taswuf filsafi pendekatan yang digunakan adalah pendekatan rasio atau akal pikiran, karena dalam taswuf ini menggunakan bahan-bahan kajian atau pemikiran yang trdapat dalam kalngan filosof, seperti filsafat tentang Tuhan -, manusia, manusia dengan tuhan dan lain sebagainya. Pada tasawuf akhlaki pendekatan yang digunakan adalah pendekatan akhlak yang tahapan nya terdiri dari takholli(mengosongkan diri dari akhlak yang buruk), tahalli(menghiasi dengan akhlak yang terpuji), dan tajalli(terbukanya dinding penghalang/ hijab) yang membatasi manusia dengan Tuhan, sehingga Nur ilahi tampak jelas paadanya. Sedangkan pada tasawof amali pendekatan yang digunakan adalh pendekatan amaliyah atau wirid, yang selanjutnya mengambil bentuk torikot. Dengan mengmalkan tasawuf baik yang bersifat filsafi, akhlaki atau amali, seseorang dengan sendirinya berskhlak baik. Perbuatan yang demikian itu ia lakukan dengan sengaja, sadar, pilihan sendiri, dan bukan karena terpaksa.
Hubungan antara akhlak dengan tasawuf menurut uraian yang diberikan oleh Harun Nasution ketika mempelajari tasawuf ternyata pula bahwa Al- Quran dan Hadist mementingkan akhlak. Al-Quran dan Hadis menekankan nilai-nilai kejujuran, kesetiakawanan, persaudaraan, rasa kesosialan, keadilan, tolong menolong, murah hati, suka memberi maaf, sabar, baik sangka, berkata benar, pemurah, keramahan, bersih hati, berani, kesucian, hemat, menepati janji, disiplin, mencintai ilmu dan berpikiran lurus. Nilai- nilai serupa ini yang harus dimiliki seorang muslim, da ndimasukkan kedalam dirinya dari semasa ia kecil.
Sebagaimana diketahui bahwa dalam tasawuf masalah ibadah sangat meninjol, karna bertasawuf itu pada hakikat nya melakukan serngkaian ibadah seperti shalat, puasa, zakat dll, yang semuanya itu uantuk mendekatka diri kepada Allah . ibadah yang dilakukan dalam rangka bertasawuf itu ternyata erat hubungannya dengan akhlak. Ibadah dalam Islam erat kali hubungannya dengan pendidikan akhlak. Ibadah dalam Al-Quran dikaitkan dengan takwa, dan takwa itu secara otomatis melaksanakan perintah tuhan dan menjauhi larangannya. Singkatnya setiaap orang yang bertakwa pasti baik akhlaknya. Harun Nasutioan berkata oarang shufilah, terutama yang pelaksanaan ibadah mya membawa kepada pembinaan akhlak mulia dalam diri mereka. Hal itu, dalam istilah shufi disebut dengan al-takholluq bi akhlaqillah, yaitu berbudi pekerti dengan budi pekerti Allah, mensifati diri dengan sifat-sifat yamg dimiliki Allah.






DAFTAR PUSTAKA


Djatnika, Rachmat. Sistem Etika Islam, Jakarta; Pustaka Panjima, 1996.

Nata, Abudin. Akhlak Tasawuf, Jakarta Raja Wali Grafindo Persada, 2008.

Simuh. Tasawuf dan Perkembangannya, Jakarta: PT Raja Grapindo Persad, 1997.

Zahri, Mustafa. kunci Memahami Ilmu Taswuf, Surabaya: PT Bina Ilmu, 1973.

















































D
I
S
U
S
U
N
OLEH;
Nama Nim
Irpan
salmah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar